Assalamu'alaikum, Kawan. Bagaimana kabar kalian??
Setelah lama tidak update, pada edisi ini saya akan mengulas tentang
peringatan maulid Nabi Muhammad SAW atau lebih dikenal dengan istilah muludan
dalam bahasa Jawa. Tujuan saya menulis ini adalah agar kita tidak
memudarkan tauladan Nabi agung kita dari tindak-tanduk kita sehari-hari serta
mengetahui bagaimana sejarah diadakannya peringatan ini. Maka dari itu,
Kawan..tulisan saya kali ini wajib kalian baca. Oke???!! Yuk, lanjut ke
inti.....
Tahukan
kalian tentang Sultan Salahuddin Al-Ayyubi?? Masa' lupa??
Salahuddin Yusuf bin Ayyub atau Salahuddin Al-Ayyubi
adalah pendiri Dinasti Ayyubiyah di Mesir. Nah, beliau inilah yang pertma kali
memeringati maulid Nabi. Pada mulanya peringatan ini hanyalah untuk
membangkitkan semangat umat Islam. Sebab waktu itu umat Islam sedang berjuang
keras mempertahankan diri dari serangan tentara salib Eropa, yakni dari
Prancis, Jerman, dan Inggris. Kita mengenal kejadian itu sebagai Perang Salib
atau The Crusade. Pada tahun 1099 M tentara salib telah berhasil merebut
Yerusalem dan menyulap Masjidil Aqsa menjadi gereja. Umat Islam saat itu
kehilangan semangat perjuangan dan persaudaraan ukhuwah. Secara politis memang
umat Islam terpecah-belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan. Meskipun ada
satu khalifah tetap satu dari Dinasti Bani Abbas di kota Baghdad sana, namun
hanya sebagai lambang persatuan spiritual.
Kata Salahuddin, semangat juang umat Islam harus
dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada Nabi mereka.
Salahuddin mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad
SAW, 12 Rabiul Awal kalender Hijriyah, yang setiap tahun berlalu begitu saja
tanpa diperingati, kini harus dirayakan secara massal.
Pada awalnya, Salahuddin ditentang oleh para ulama.
Sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari
raya resmi menurut ajaran agama cuma ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.
Akan tetapi Salahuddin kemudian menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah
kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual,
sehingga tidak dapat dikategorikan bid`ah yang terlarang.
Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan
Salahuddin pada peringatan Maulid Nabi yang pertama kali tahun 1184 (580 H)
adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian
bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawan
diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Pemenang yang menjadi juara
pertama adalah Syaikh Ja`far Al-Barzanji. Dan hingga kini, karyanya masih
sering kita dengar terutama masyarakat desa.
Ternyata peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan
Sultan Salahuddin itu membuahkan hasil yang positif. Semangat umat Islam
menghadapi Perang Salib bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun
kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 H) Yerusalem direbut oleh Salahuddin
dari tangan bangsa Eropa, dan Masjidil Aqsa menjadi masjid kembali, sampai hari
ini.
Rasulullah SAW bersabda: "Siapa menghormati hari
lahirku, tentu aku berikan syafa'at kepadanya di Hari Kiamat." Sahabat
Umar bin Khattab secara bersemangat mengatakan: “Siapa yang menghormati hari
lahir rasulullah sama artinya dengan menghidupkan Islam!”
Nah, jika
berdasarkan hadits tersebut, tidak ada salahnya 'kan memeringati maulid Nabi
Muhammad SAW??? Tapi yang cukup memprihatinkan, Kawan..dampak positif
peringatan maulid Nabi belum begitu terasa di kehidupan sehari-hari kita.
Misalnya, masih banyak 'kan di antara kita yang makan dengan tangan kiri?
Padahal hal tersebut tidak dianjurkan Nabi kita. Karena itu, peringatan maulid
Nabi hendaknya jangan seremonial saja tapi perlu punya misi untuk
mendarahdagingkan akhlak Nabi kepada para hadirin, terutama generasi muda
bangsa ini. Dan saya cuma mau mengingatkan, jangan lupa perbanyak sholawat Nabi terutama pada malam menjelang hari kelahiran beliau dan pada hari Jum'at. Semoga bermanfaat...Wassalamu'alaikum.


0 komentar:
Posting Komentar